Bagian 2: Terkadang, Semesta Tidak Berpihak Pada Raya
Ada kala nya semesta tidak berpihak pada Raya. Tidak merayakan, tetapi tidak juga merundung, hanya mengabaikan Raya yang tidak mengerti mengapa hal itu terjadi padanya. Hari ini, tepat jam 7.30 pagi seharusnya Raya berada di ruang kelasnya, tetapi pagi itu hujan turun lagi semakin deras tepat saat Raya hendak berangkat. Di depan pintu rumah, ia memandangi hujan yang turun, mengingatkannya pada hujan yang kemarin.
Raya percaya betul hujan yang sering datang tiba-tiba ini bukan tanpa sebab, mungkin saja karena perubahan iklim. Cuaca tidak bisa ditebak, apapun yang terjadi pada hari itu, tidak ada yang bisa menebak.
Rintik hujan mulai berhenti, Raya bergegas mengambil tas nya lalu berlari menuju halte. Raya menatap bangku halte yang masih basah. Ia memilih berdiri sambil menatap jalan raya yang penuh kendaraan terburu-buru, seolah hanya dia satu-satunya yang tertinggal oleh waktu. Di sisi lain halte, seorang ibu paruh baya sedang mengeringkan ujung kerudungnya dengan tisu. Ibu itu menatap Raya sekilas lalu tersenyum kecil, seolah memberi pesan bahwa semua orang pun pernah merasa tidak dipihak oleh semesta.
Beberapa menit kemudian, hujan kembali turun. Tidak deras, hanya gerimis tipis yang membuat udara jadi semakin dingin. Raya memeluk tasnya, lalu menghela napas. “Kenapa harus hari ini?” pikirnya. Hari ketika ia harus mempresentasikan tugas kelompok tugas yang sudah ia kerjakan hampir sendirian.
Hujan semakin rapat, membuat batas antara suara kendaraan dan tetesan air nyaris hilang. Dalam kebisingan itu, Raya merasakan dadanya sesak. Bukan karena ia terlambat, tapi karena
ia merasa terlalu sering berjuang sendirian. Terlalu sering menghadapi dunia yang tidak sempat berhenti untuk menunggu.
Lalu, tiba-tiba ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari ketua kelompoknya:
“Raya, presentasi kita diundur ke sesi terakhir. Dosen baru bisa mulai jam 10. Kamu aman.”
Raya terpaku. Gerimis yang jatuh di sekitar halte mendadak terasa lebih lembut, seolah tidak lagi mengganggu.
Untuk pertama kalinya pagi itu, Raya tersenyum.
Mungkin semesta memang tidak sedang berpihak padanya…
tapi ternyata semesta juga tidak sepenuhnya menutup pintu.
Ada kalanya ia hanya terlambat memberi kabar.
Di kejauhan, bus berikutnya muncul, melaju perlahan, seakan kali ini benar-benar datang untuk Raya.